Kisah epos Mahabharata sudah melegenda, di nusantara sendiri tercatat banyak sekali gubahan gubahan dari kisah ini, bisa diambil contoh dari kitab karya mpu sedah dan mpu panuluh dijaman Raja Jayabaya raja kerajaan Panjalu Kediri, untuk mengenang kejayaan Panjalu atas Janggala.
Sayangnya tidak ada kisah pembanding lain dari epos ini. Namun jika dilihat dari sudut pandang lain maka akan ditemukan kisah yang sangat berbeda sekali dari apa yang selama ini ditanamkan dari kisah tersebut. Kisah Mahabharata ini mengisahkan dua kelompok yang bertikai antara Pandawa dan Kurawa, selama ini yang ditanamkan adalah Pandawa protagonis dan Kurawa sebagai Antagonis.
Dimulai dari awal kelahiran dua kelompok ini, awal kelahiran Kurawa ditandai dengan anugrah Dewa Siwa kepada ibu para Kurawa untuk melahirkan seratus anak, sedangkan Pandawa dilahirkan oleh Kunti tiga orang dan Madri dua orang anak kembar juga dari anugrah Dewa. Dari nama sudah terlihat siapakah keturunan bangsa Kuru yakni kelompok Kurawa. Dari awal kelahiran Kurawa mereka diberkahi Siwa sedangkan Pandawa mulai dari pertengahan kisah sampai akhir di dampingi Kresna penjelmaan Wisnu. Jadi seolah olah pertikaian dua kelompok ini seperti peritikaian antara dua sekte, siwaistis dan waisnawa. Dalam gambaran epos ini dikisahkan bahwa Kurawa sangat ambisius akan kekuasaan. Namun jika dilihat lagi malah Pandawa lah yang sangat ambisius.
Pandawa diketuai oleh Yudhistira anugrah dari dewa Dharma, apa yang dikatakannya tidak bisa dibantah oleh keempat adiknya. Ada yang aneh yang terdapat dalam penokohan ini, yakni dia pernah melawan aturan dengan bersumpah untuk tidak akan menuntut kekuasaan akan tetapi dilanggarnya sendiri dikemudian hari. Namun dia tidak bisa memutuskan dalam masalah menikahi Drupadi, yang akhirnya Drupadi yang notabene sebagai wanita tercantik kala itu harus menderita dengan menikah dengan keempat adiknya. Padahal yang paling berhak adalah Arjuna si pemenang sayembara, malah dibagi lima. Sedangkan di kisah itupun masalah menikahi lebih dari satu orang laki laki terbilang tabu. Yudistira ini sangat suka sekali berjudi, dan sangat percaya diri akan keberuntungannya dalam masalah berjudi. Ketuanya Kurawa Duryudhana malah sebaliknya dia tidak suka dan tidak bisa main judi. Waktu acara perjudian berhubung Duryudhana tidak bisa main maka ditunjuklah pamannya Sengkuni yang bisa main dadu untuk meladeni Yudistira. Sengkuni ini adalah ahli strategi yang jenius dalam kisah ini, satu satunya orang yang mampu menandingi Krishna, kalau Krishna tidak berbuat berbagai kecurangan dalam perang besar, maka ceritanya bisa lain. Balik ke perjudian dadu, namanya sudah gelap mata kalau sudah kalah, apapun dipertaruhkan mulai dari harta, tahta, akhirnya adik adiknya yang dipertaruhkan sampai puncaknya istrinya. Dari sini bisa dilihat karakter lain dari Pandawa, sudah kalah main malah marah marah menuduh dadunya yang gak bener, sudah marah minta balik modal sampai ngajak tawuran. Yudhistira pun berbohong kepada gurunya Drona yang mengatakan kepadanya bahwa anaknya yang bernama Aswathama gugur dalam pertempuran sehingga Drona yang tidak bisa dikalahkan itu menyerahkan hidupnya kepada Pandawa. Padahal Yudistira digambarkan bermulut kebenaran.
Baca Juga: Kisah Nabi Nuh serupa dengan Matsya Purana
Nusantara keturunan Aswathamma pihak Kurawa
Bima dalam kisah ini digambarkan suka menghina, bahkan dengan orang yang dipandang tidak setingkat dengannya malah jadi sasaran empuk. Contohnya waktu bertemunya Pandawa dengan kakak terua mereka yang dibuang ibunya sendiri karena dianggap sebuah aib, Karna. Waktu pertama kali bertemu, Bima langsung mempertanyakan statusnya dan menghinanya di depan rakyat kerajaan. Betapa malunya Karna, namun ditengah kejadian itu datanglah Duryudhana dan membela Karna bahkan sampai mengangkat derajad Karna untuk mengembalikan kepercayaan dirinya. Jika dibilang ah itu karena Bima tidak tahu kalau Karna itu kakaknya, memang kalau bukan keluarganya sah untuk dihina?
Bima ini ini bersenjata gada namun dia memakai segala cara untuk bisa mengalahkan musuh. Saat pertarungan terakhir dengan Duryudhana, Bima kewalahan dan tidak bisa mengalahkan Duryudhana. Akhirnya Bima memukul Duryudhana di daerah terlarang untuk diserang, yang menyebabkan kemenangan untuknya.
Arjuna, dia tidak peduli apakah itu saudaranya sendiri atau bukan kalau menyinggung senjatanya dia tak segan segan untuk membunuh, hal ini dibuktikan ketika dia akan membunuh Yudistira yang menyinggung Gandewa nya. Dalam kisah Mahabharata lokal malah lebih parah dia ini digambarkan sangat menyukai wanita, banyak wanitanya bahkan istri Duryudhana yang notabene adalah saudaranya sendiri pun di embat, sampai melahirkan anak. Namun untuk menhindari masalah anaknya ini didoakan untuk tidak bisa mewarisi keahlian atau keilmuan dan rupa Arjuna. Walhasil anaknya terlahir bodoh dan jelek, ayah macam apa ini. Ketika pertarungan dengan Karna kakaknya, dia berani melanggar aturan untuk menyerang orang yang tidak bersenjata. Bahkan sebelum perang dimulai, Karna dilucuti senjatanya oleh Bapak biologis Arjuna yaitu Dewa Indra supaya dapat dibunuh oleh Arjuna.
Bisma, dia adalah kakek dari Pandawa dan Kurawa. Dia digambarkan sebagai ksatria sejati dan tidak akan melawan ksatria yang sejati. Namun Pandawa mencoba mencuranginya dengan menghadapkannya dengan wanita (srikandi) yang diubah menjadi seorang laki laki. Karena srikandi bukan laki laki sejati maka Bisma pun tak mau mengangkat senjatanya yang mengakibatkan gugurnya ksatria Hastinapura ini.
Duryudhana selalu digambarkan buruk oleh epos ini. Walaupun masih ada informasi lain dari karakter ini seperti yang sudah ditulis di atas ada hal lain yang menarik dari tokoh ini. Yaitu dia tidak mau menyerah kalah sampai dia benar benar dikalahkan dalam pertempuran, walau banyak kecurangan yang dihadapinya namun dia memegang sifat ksatria daripada menanggung dosa akan kematian saudara, para sesepuhnya, dan para prajurit yang mendukungnya Duryudhana adalah Ksatria sesungguhnya dalam epos ini.
Itulah sudut pandang lain dalam membaca epos Mahabharata. Namun ada tambahan informasi lain yang menarik, yaitu masih adanya kuil yang dipersembahkan untuk Duryudhana dan Sengkuni di India.
Juga ada satu berita menarik mengenai Aswatama, dalam kisah ini diberitakan bahwa aswatama dikutuk menjadi manusia abadi dan dinistakan. Di India selatan ada sebuah dinasti kerajaan bernama Pallawa (275-879M) Mereka mempunyai lempeng genealogi menjelaskan keturunan mereka berasal dari Aswathama, dan mereka bangga punya leluhur Aswathama, berikut terjemahan kurang lebihnya.
Velurpalaiyam plates
.....darinya aswatama turunlah keturunan palawa. Penguasa seluruh dunia, kemasyhurannya mencengangkan, bersama itu lahirlah keturunan palawa. Termasuk anak lelaki chutapallava virakurcha, nama yang dimuliakan, selanjutnya bersama dengan anak perempuan penguasa ular (naga) menggenggam tahta kerajaan dan menjadi terkenal...
Ada istilah bahwa tulisan sejarah ditulis oleh pemenang, tak jarang dibuat propaganda apalagi dibuat dengan konsep nilai Dharma melawan Adharma atau kebaikan melawan kejahatan, adalah bungkus pembenar yang sangat efektif, dalam contoh kasus kisah lain tentang Ajisaka melawan Dewata Cengkar. Dalam kisah tersebut Ajisaka adalah pendatang atau orang asing yang merebut kekuasaan Pemimpin lokal suatu daerah, disitu digambarkan penokohan Dewata Cengkar sangat jahat sekali. Dan propaganda dharma melawan adharma dijadikan pembenar untuk menyingkirkan Dewata Cengkar. Padahal Dewata Cengkar hanya melindungi teritorialnya dari pengaruh orang asing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar