Selasa, 01 September 2020

Membedah tokoh Bango Samparan dalam naskah Pararaton

Bango Samparan, adalah seorang tokoh dalam naskah Pararaton yang punya andil dalam kehidupan Ken Angrok. Banyak yang berpendapat bahwa naskah Pararaton menyimpan banyak makna yang disamarkan.

Mari kita bedah tokoh satu ini.

Dari namanya Bango Samparan berarti telapak kaki burung bangau. Dijaman dulu nama nama seperti ini sangat lumrah digunakan untuk menunjukkan karakter orangnya. Sebagai contoh Gajah, Mahesa, Banyak, Kebo dll. Bisa jadi dijaman dulu menggunakan nama ini untuk menyematkan karakter, seperti Gajah dengan artian hewannya sendiri yang bertubuh kuat besar berwibawa. Ranggah / Mahesa dalam artian hewannya berarti Kuda yang mempunyai kecepatan bisa juga sebagai gelar pasukan kavaleri atau berkuda. Kebo yang bertubuh kuat dan suka berada di air, ambil contoh Kebo Anabrang yang berarti Kerbau yang menyeberang bisa berarti gelar seperti pasukan angkatan laut.

Nah dari karakteristik burung Bangau, burung ini waktu mencari makan di area berair selalu membuat langkah dengan sikap kehati hatian, mengangkat kakinya tinggi dan meletakkan kembali hati hati senyap tanpa keributan berarti, kalau tidak bisa kabur semua ikan mangsanya. Juga dilihat ketika tidur, burung ini hanya bertumpu pada satu kaki, contoh aktivitas yang sulit bagaimana bisa melakukan sebuah pekerjaan dengan "alat" yang kurang dari "biasanya".
Sosok ini adalah tokoh dibalik kesuksesan Ken Arok (dalam naskah Pararaton). Jika tanpa andil Bango Samparan Ken Arok mungkin saja bernasib lain. Padahal dengan peran yang begitu banyak dalam kehidupan Ken Arok sosok ini sering luput dari perhatian atau di pandang sebelah mata.
Bango Samparan pun dikabarkan sebagai penjudi, mari kita melihatnya dalam sisi yang lain. Hidup ini tidak lepas dari perjudian, Bango Samparan terlihat sangat aktif dalam hal itu, antara kalah dan menang, mendidik Ken Arok antara sukses dan tidak.
Sebagai contoh bagaimana melihat dari sudut lain, mari mengartikan bahasa perjudian yang tidak selalu berarti secara harafiah yang terdapat pada Prasasti widodaren.
1. Salêmah kas
2. turi, wêka awêha
3. totohan,
4. dadiha kawula
5. batur sa(ng) pu Tula,
6. mane samake,
7. muwah satêbe
Alih bahasa:
1. Sebumi yang wangi,
2. anak cucu janganlah
3. bermain-main,
4. jadilah hamba
5. sahaya dari sang Pu Tula,
6. dari saat ini,
7. hingga kapanpun.

Dari karakteristik diatas bisa juga Bango Samparan adalah guru beladiri dari Ken Arok sendiri, dalam kisah Pararaton Dandang Gendhis Raja Kadhiri dikabarkan sangat mumpuni dalam ilmu beladiri namun Ken Arok mampu mengalahkannya dalam perang Ganter.

Sangat besar andil dari tokoh Bango Samparan dalam kehidupan Ken Arok, menjadikan pelajaran jangan melupakan sosok dibalik sebuah kesuksesan.
http://prawasawekti.blogspot.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Babad Tanah Jawi Gubahan L. VAN RIJCKEVORSEL 1925

Babad Tanah Jawi naskah yang mempunyai banyak versi. Kali ini bisa berbagi dengan salah satu naskah Babad Tanah Jawi   Gubahan  L. VAN RIJCK...