Rabu, 02 September 2020

Kemungkinan Jayakatwang bukan pemberontak seperti yang diberitakan.

Ada banyak kejanggalan dalam drama kehancuran Kerajaan Singhasari, yang membuat banyak sekali tanda tanya dan berujung apakah benar kehancuran Singhasari ini karena Jayakatwang?

Drama ini bermula dari siapa Jayakatwang? Jayakatwang adalah keturunan Narapati Kadhiri atau Raja Kertajaya yang dikalahkan oleh Shri Rajasa dan dia juga sepupu, ipar, juga sekaligus besan dari Kertanegara. Sangat rumit sekali hubungannya, ibunya adalah bibi dari kertanegara, istrinya adalah saudarinya Kertanegara, dan anaknya (Ardharaja) adalah menantunya. Sangat dekat sekali, namun jika diambil dari karakter petinggi kerajaan jaman dulu perang saudara memperebutkan tahta juga hal yang biasa contoh saja perang panjang antara Panjalu dan Janggala.

Akan tetapi jika Jayakatwang bukan pelaku pemberontakan, maka dia adalah sasaran yang sangat sempurna untuk dijadikan kambing hitam cukup dari alasan bahwa dia keturunan Kertajaya. Apakah ada kemungkinan bukan Jayakatwang pelaku pemberontakan? jawabannya adalah sangat mungkin sekali, karena justru berbagai kejadian sebelum dan sesudahnya, dan juga pihak manakah yang paling diuntungkan dari rentetan kejadian ini. Dan akhirnya kemungkinan itu mengarah kepada tidak lain tidak bukan melainkan Dyah Wijaya pendiri Majapahit itu sendiri.

1. Ketika itu, posisi kerajaan dalam kondisi ditinggalkan pasukan inti yang sedang melakukan kunjungan ke negeri Dharmasraya atau ekspedisi Pamalayu yang dipimpin oleh Mahamantri kerajaan Adwayabrahma. Adwayabrahma ini kedudukannya dibawah Raja langsung. Sebagai catatan waktu pembersihan pasukan Mongol sudah membuktikan bahwa sejatinya Singhasari tidak perlu membutuhkan pasukan yang besar , kisah yang diedarkan adalah kisah heroik tentang hebatnya membersihkan Mongol dengan sedikit pasukan, tapi memang kenyataannya ya seperti itu, tidak perlu pasukan lengkap. Justru Mongol digunakan sebelum dihancurkan atau sebagai "alat" untuk membersihkan Jayakatwang, cantik sekali.  

2. Sepulang dari Dharmasraya, jika Dyah Wijaya setia kepada Singhasari mengapa tidak diserahkan dulu Singhasari kepada Mahamantrinya, tapi malah sudah membuat kerajaan baru yang bernama Majapahit. Dan kenapa Mahamantri berikut pejabat tinggi yang ikut serta dalam ekspedisi Pamalayu tidak berbuat banyak? Untuk itulah perlu satu usaha untuk membungkam keinginan untuk mempertanyakan berdirinya Majapahit, yaitu menikahi seluruh putri dari Kertanegara berikut sekalian istrinya Ardharaja yang sudah menjanda. Jika seluruh putrinya ada dalam genggaman siapa yang akan punya keberanian untuk mempertanyakan. Dari sini sudah ada titik terang kenapa Jayakatwang harus dibersihkan. Untuk seorang putri Raja yang sudah diperistri orang. Jika dilihat dari hubungan Jayakatwang dengan Kertanegara, sangat mustahil bila Jayakatwang tidak mengetahui kekuatan Singhasari. Apa Jayakatwang sudah hilang akal? Jika dia memberontak, apa dia tidak memikirkan keselamatannya jika pasukan inti Singhasari pulang? Maka dari itu Majapahit menyebut dirinya sebagai penerus dari Singhasari.

3. Bali sudah ditaklukkan oleh Singhasari, Jika Majapahit diakui sebagai penerus dari Singhasari mengapa ditaklukkan lagi oleh Majapahit. Sebagai contoh Penaklukan Bali oleh Singhasari dicatat dalam Babad Bali dengan tokoh yang bernama Ki Kebo Bungalan, yang berputra Kebo Parud.

Baca juga: Mencari Jejak Leluhur Shri Ranggah Rajasa

                    Tuduhan Islamisasi beriring dengan jatuhnya Majapahit

Kerajaan besar Singhasari yang mempunyai kekuatan besar juga masih mempunyai kelemahan, dan kelemahannya dikarenakan Rajanya tidak mempunyai keturunan laki laki, inilah yang membuat runtuhnya Singhasari. Lebih jelasnya seperti ini, siapakah penerus sah Kerajaan Singhasari setelah sepeninggal Kertanegara, ada beberapa kemungkinan yaitu:

1 Putri putri Kertanegara

2 Adwayabrahma (Ayah Adityawarman panglima Majapahit) -> menurut tradisi semenjak jaman Rakai Kayuwangi bahwa penerus tahta kerajaan dipegang oleh Mahamantri I Hino

3 Menantu Kertanegara Dyah Wijaya dan Ardharaja  

http://www.prawasawekti.blogspot.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar