Pendharmaan Bathara Anusapati dihiasi kisah sang Garudheya, di identikkan dengan sang Raja yang ikut menderita menanggung kesedihan sang Ibunda.
Antara Ken Dedes dan Ken Umang.
Kisah perjuangan seorang anak untuk membantu membebaskan ibunya dari penderitaan. Alkisah di sebuah daerah pertapaan, tinggallah seorang resi yang bernama Resi Kasyapa dengan dua orang istrinya, yaitu Dewi Winata dan Dewi Kadru. Ternyata kedua istri sang resi tersebut bersaudara kandung, akan tetapi di antara keduanya terjadi persaingan keras untuk mendapatkan perhatian cinta yang lebih dari suaminya. Apalagi keduanya merasa gelisah ketika mereka tak juga dikaruniai putra.
Pada suatu hari, Dewi Winata didatangi seorang dewa yang menghadiahkan sebuah telur kepadanya. Dewa itu berpesan supaya Dewi Winata selalu menjaga telur itu baik-baik hingga saat menetas nanti agar merawat makhluk yang keluar dari dalam telur tersebut. Sang Dewi lalu menyimpan telur tersebut di tempat tersembunyi. Pada saat yang bersamaan pula ternyata Dewi Kadru juga mengalami hal kejadian yang serupa. Setelah tiba waktunya, telur yang telah diberikan kepada sang Dewi Winata menetas dan dari dalam telur tersebut keluarlah seekor anak burung. Sementara itu, telur milik Dewi Kadru juga menetas dan dari dalamnya keluarlah beberapa ekor ular. Kedua wanita itu merawat anak-anak (angkat) mereka dengan baik. Anak angkat Dewi Winata ketika besar menjadi seekor garuda yang diberi nama Garudheya, sementara anak-anak Dewi Kadru menjadi naga.
Baca Juga: Hubungan Candi Kidal dengan istilah "Ruwat"
Walaupun dari masing-masing telah mempunyai anak angkat, perseteruan di antara kedua wanita tersebut tidak mereda. Puncaknya pada suatu hari, Dewi Kadru menipu kakaknya dalam sebuah taruhan, sehingga ia memenangkan permainan tersebut. Akibatnya Dewi Winata yang kalah harus menjadi budak Dewi Kadru dan anak-anaknya. Garudheya pun sangat sedih melihat penderitaan sang ibunda. Setelah dewasa, Garudheya berusaha mencari cara untuk menyelamatkan ibunya dari perbudakan. Akhirnya Garudheya berhasil mendapatkan informasi bahwa ibunya akan terbebas dari ikatan perjanjian dengan syarat tebusan tirta amerta (air kehidupan) yang disimpan di kahyangan dan dijaga oleh Dewa Wisnu. Setelah melalui berbagai tantangan dan perjuangan, Garudheya akhirnya berhasil mendapatkan izin dari Dewa Wisnu untuk menggunakan tirta amerta yang diperlukan untuk membebaskan ibunda dari penderitaan dengan tambahan syarat ia harus menjadi tunggangan Dewa Wisnu.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar