Minggu, 30 Agustus 2020

Candi Kidal - Hubungan dengan istilah "Ruwat"

Candi Kidal - Candi Pembebasan

Bathara Anusapati pun menjadi raja
Selama pemerintahannya bumi Jawa kokoh sentosa
Tahun saka Persian Gunung Sambu (1170 C - 1248 M) beliau berpulang ke Siwabudaloka
Cahaya dia diwujudkan arca Siwa gemilang di candi Kidal (Negarakrtagama)
http://prawasawekti.blogspot.com

Pada kaki dan ditubuh candi terdapat hiasan medali serta sabuk melingkar yangmenghiasi badan candi. Atap candi yang terdiri atas tiga tingkat dimana semakin keatas semakin kecil dengan bagian yang paling atas mempunyai permukaan cukup luas dan tanpa hiasan atap. Berhias Kala yang sangat eksotis. Konon di setiap pojok tingkatan atap tersebut dulu dihias pula dengan berlian kecil.
Di candi juga berfungsi sebagai tempat RUWATAN seorang raja yang telah meninggal agar supaya kembali suci dan akhirnya dapat menitis kembali menjadi dewa. Sebenarnya isu ini berkaitan erat dengan konsep Dewaraja yang berkembang kuat atau dipakai di Jawa saat itu. Dan untuk menguatkan prinsip dari ruwatan tersebut makanya sering dipahatkan relief-relief cerita moral dan legenda.
"Dewaraja" adalah konsep dari agama Hindu-Buddha yang memuja dan menganggap raja memiliki sifat kedewaan, bentuk pemujaan ini ditemui dan berkembang di Asia Tenggara. Konsep ini terkait erat dengan sistem monarki yang menganggap seorang raja memiliki sifat illahiah, sebagai dewa yang hidup di atas bumi, sebagai titisan dewa yang tertinggi, biasanya dikaitkan dengan Siwa atau Wishnu. Konsep ini terkait dengan gagasan di India mengenai raja jagat cakrawartin.
Berkaitan dengan prinsip dan konsep tersebut, dan sesuai dengan kitab Desawarnana/Negarakretagama, maka candi Kidal merupakan tempat diruwatnya raja Anusapati dan dimuliakan sebagai Siwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar